SMPN 2 LAMBAH SIANOK
Senin, 23 Mei 2016
Kamis, 29 Mei 2014
MAKNA PAKAIAN PENGHULU
DAN BUNDO KANDUANG PADA PERTUNJUKAN DETA DATUAK KARYA ALFIYANTO,S.Sn DALAM
RANGKA UJIAN AKHIR S2
A. Fungsi dan Simbol
Warna Dalam Busana Tari
Adapun yang dimaksud dengan busana atau pakaian tari ialah semua yang dipakai penari terdiri dari pakaian, perhiasan, dan perlengkapannya. Busana atau pakaian di dalam tari memiliki beragam fungsi, sebagai berikut:
1. Fungsi psikis : busana adalah lingkungan penari yang paling dekat dan akrab.
2. Fungsi artistik : busana adalah aspek seni rupa dalam penampilan tari yang menggambarkan identitas tarian/pemeran melalui, garis, bentuk, corak, dan warna busana. Dengan demikian maka pemeran seorang tokoh harus dikenal dari corak-coraknya.
3. Fungsi estetik : busana merupakan unsur keindahan tarian/peran yang menyatu dengan tubuh penari. Busana disini berfungsi membantu mengungkapkan karakter peran.
Di dalam seni tari tradisi, terntu akan dibalut oleh unsur-unsur seni rupa yang bersifat tradisi pula dan memiliki nilai serta makna yang telah membaku. Selain fungsi di atas, pada busana atau pakaian tari tradisional terdapat warna-warna simbolis umpamanya:
1. Warna merah sifatnya menarik sebagai simbol keberanian, agresif, aktif, raja sombong, ksatria putri, dan memiliki sifat teatrikal.
2. Warna biru sifatnya tenteram sebagai simbol kesetiaan, cocok untuk ksatria dan putri yang setia penuh dengan pengabdian.
3. Warna hitam adalah bijaksana, cocok untuk peran raja, ksatria, putri, pendeta bijaksana.
4. Warna kuning berkesan gembira dan agung.
5. Warna putih memiliki kesan muda dan suci(15). (Risyani, Pengantar Pengetahuan Tari. Departemen Pendidikan Nasional STSI Bandung,2005,h.33-34).
B. Pakaian Penghulu
Pada dasarnya pakaian Penghulu yang digunakan pada saat pertunjukan Deta Datuak tidak jauh berbeda dengan pakaian Penghulu yang dipakai di berbagai daerah di Sumatera Barat. Pada pertunjukan Deta Datuak tersebut, pakaian Penghulu terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Pakaian pertama Penghulu yang terdiri dari:
• Baju takwa berwarna putih
• Celana lapang (besar)
• Sisamping (samping)
• Cawek (ikat pinggang)
• Tongkat
2. Pakaian kedua Penghulu yang terdiri dari:
• Saluak
• Baju lapang (besar)
• Baju takwa
• Celana lapang (besar)
• Sisamping (samping)
• Cawek (ikat pinggang)
• Tongkat
3. Pakaian sekumpulan Penghulu yang terdiri dari:
• Saluak
• Baju lapang (besar)
• Celana lapang (besar)
• Sisamping (samping)
• Cawek (ikat pinggang)
• Sandang (salempang)
• Selop
• Tongkat
C. Makna Pakaian Penghulu
Sebagaimana kita ketahui dan kita lihat, pakaian Penghulu di Minangkabau sangat berlainan dengan pakaian-pakaian pemuka-pemuka adat di daerah lain. Pakaian Penghulu yang disebut diatas sebenarnya tidaklah dibuat demikian saja, tetapi cukup mempunyai hikmah dan falsafah yang mengandung ajaran-ajaran bagi si pemakainya (Penghulu). Dan pada pakaian itu sebenarnya terkandung banyak sekali rahasia yang menyangkut sifat-sifat dan martabat serta larangan seorang Penghulu begitupun tugasnya dan kepemimpinannya (ilmu yang bersangkutan dengan leadership)(16. H. Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu, Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.PT. Remadja Rosdakarya Bandung, 2001, h.104-105)
1.Saluak
• Melambangkan sistem pemerintahan demokrasi dalam masyarakat Minangkabau.
• Melambangkan penyimpanan segala buruk baik, segala rahasia yang merupakan persoalan dalam masyarakatnya.
• Warna merah melambangkan keberanian.
• Warna hitam yang melambangkan dapat bekerjasama dalam bidang apa saja untuk kebaikan kaumnya atau masyarakat pada umumnya.
• Melambangkan bahwa Penghulu mempunyai derajat yang tertinggi dalam masyarakatnya.
• Melambangkan bahwa dalam mencari mufakat akan diperoleh suatu keputusan yang datar dan adil bagi segala pihak.
• Melambangkan bahwa orang yang memakainya adalah orang yang tahu dengan seluk beluk adat Minangkabau.
• Melambangkan kedalaman ilmu orang yang memakainya.
2. Baju lapang (besar)
• Melambangkan bahwa pemakainya adalah orang besar, beralam luas, berdada lapang dan bersifat sabar.
• Melambangkan keterbukaan pemimpin dan kelapangan dadanya.
• Selalu ingat dan menjaga kelestarian adat.
• Berilmu, berwibawa, bermagrifat, yakni tawakal kepada Allah.
• Kaya dan miskin terletak pada hati dan kebenaran.
• Hemat dan cermat.
• Sabar dan ridho.
• Melambangkan bahwa Penghulu tidak mempunyai sifat pembohong atau tidak pendusta, tidak mempunyai sifat mengambil kesempatan dalam kesempitan.
• Melambangkan bahwa Penghulu tidak berbuat merugikan orang lain atau kawan sendiri.
• Melambangkan bahwa orang Minangkabau hidup dengan penuh perasaan.
• Warna hitam melambangkan bahwa sepatah kata Penghulu tidak dapat dirubah lagi, karenanya semuanya yang dikatakan Penghulu itu merupakan hasil musyawarah bersama.
3. Celana lapang (besar)
• Melambangkan langkah yang selesai untuk menjaga segala kemungkinan musuh yang datang tiba-tiba. Walaupun lapang tetapi langkahnya mempunyai batas-batas tertentu dan mempunyai tata tertib tertentu pula.
• Melambangkan agar bersifat jujur, benar dan tulus-ikhlas.
• Melambangkan jangan berlindung pada orang lain semaunya, jangan suka enak sendiri dalam masyarakat.
4.Sisamping (samping)
• Melambangkan orang yang memakainya akan selalu hormat-menghormati.
• Warna merah melambangkan keberanian dan bertanggung jawab.
• Melambangkan si pemakai mempunyai pengetahuan yang cukup dalam bidangnya.
• Melambangkan agar pemakai dalam berjalan harus memelihara kaki, dan dalam berkata pelihara lidah. Dengan kata lain ”samping” tersebut dapat dikatakan melambangkan ”kehati-hatian” pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masyarakat.
5.Cawek (ikat pinggang)
• Melambangkan setiap sesuatu itu harus dengan rundingan menyelesaikannya. Penghulu tidak boleh menjadi hakim sendiri.
• Melambangkan keteguhan orang Minangkabau pada perjanjian.
6.Sandang (salempang)
• Melambangkan tanggung jawab seorang Penghulu terhadap kesejahteraan anak kemenakannya.
• Melambangkan tanda kebesaran seorang Penghulu.
• Melambangkan bahwa Penghulu itu adalah orang yang jujur dan selalu menepati janji yang telah dibuat bersama.
• Melambangkan penghapus keringat yang terdapat pada kening.
7.Tongkat
• Melambangkan kebesaran pemakaianya, atau orang yang harus didahulukan dan dituakan sepanjang adat.
• Melambangkan kemampuan dan kemakmuran negeri.
• Melambangkan komando terhadap anak kemenakan.
• Melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat, tiap peraturan yang telah ditetapkan harus dipertahankan dan ditegakkan dengan penuh wibawa.
• Melambangkan bahwa semua masalah tidak dikuasai sendiri dan tidak diselesaikan atau dihakimi sendiri.
• Melambangkan sebagai pertahanan diri terhadap serangan musuh.
• Melambangkan bahwa Penghulu mempunyai pembantu dalam menjalankan tugasnya(17. Drs.Anwar Ibrahim,dkk, Pakaian Adat Tradisional Daerah Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986,h.29-98).
8. Baju takwa putih
• Melambangkan kesucian hati seorang Penghulu.
• Melambangkan kejernihan pikiran seorang Penghulu dalam pengambilan keputusan.
• Melambangkan bahwa Penghulu adalah seorang yang bertakwa kepada Tuhan.
9. Selop
Disini selop hanya berfungsi sebagai pelindung / pengaman kaki agar tidak terkena benda tajam, disamping itu juga perlindungan terhadap diri seorang Penghulu.
D. Pakaian Bundo Kanduang
Pada dasarnya pakaian Bundo Kanduang yang digunakan pada saat pertunjukan Deta Datuak tidak jauh berbeda dengan pakaian Bundo Kanduang yang dipakai di berbagai daerah di Sumatera Barat. Pada pertunjukan Deta Datuak tersebut, pakaian Bundo Kanduang terdiri dari:
1. Tengkuluk tanduk
2. Baju bertanti
3. Sarung (lambak)
4. Kalung
5. Gelang
6. Selop
Pakaian Bundo Kanduang
E. Makna Pakaian Bundo Kanduang
Pakaian Bundo Kanduang yang disebut diatas sebenarnya tidaklah dibuat demikian saja, tetapi cukup mempunyai hikmah dan falsafah yang mengandung ajaran-ajaran bagi si pemakainya (Bundo Kanduang)(Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu, Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.PT. Remadja Rosdakarya Bandung, 2001, h.104-105).
1. Tengkuluk tanduk
• Melambangkan rumah adat Minangkabau.
• Melambangkan akal budi Bundo Kanduang menyebar untuk masyarakat banyak.
• Melambangkan bahwa dalam memutuskan sesuatu haruslah dengan musyawarah mufakat dan hasilnya harus adil.
• Melambangkan tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada Bundo Kanduang harus dijunjung tinggi.
2. Baju bertanti
• Melambangkan kekayaan alam Minangkabau dengan emas.
• Melambangkan masyarakat yang bermacam ragam berada dalam satu wadah yaitu adat Minangkabau.
• Melambangkan ketaatan Bundo Kanduang dalam menjalankan agama Islam.
• Melambangkan demokrasi yang luas di Minangkabau tetapi berada pada batas-batas tertentu.
• Warna merah melambangkan keberanian dalam menyatakan kebenaran.
• Warna hitam melambangkan tahan gempa dan dapat pergi kemana saja dalam melaksanakan tugasnya.
3.Sarung (lambak)
• Melambangkan bahwa dia seorang ”putri” yang memiliki tertib sopan dan mempunyai rasa jormat menghormati.
• Warna merah atau minimal kemerah-merahan sebagai lambang keberanian dan bertanggung jawab.
• Melambangkan bahwa segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya.
4.Kalung
• Melambangkan bahwa semua rahasia dikumpulkan oleh Bundo Kanduang.
• Melambangkan bahwa kebenaran akan tetap berdiri teguh.
• Melambangkan bahwa Bundo Kanduang menyimpan harta pusaka.
5.Gelang
• Melambangkan keindahan dan memamerkan kemampuan/kekayaan sipemakai.
• Pemakaian gelang melambangkan batas-batas yang dapat dilakukan oleh seorang dalam kehidupan ini.
• Melambangkan bahwa dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan harus disesuaikan dengan kemampuan.
• Melambangkan kedisiplinan adat Minangkabau(19).
6. Selop
Disini selop hanya berfungsi sebagai pelindung / pengaman kaki agar tidak terkena benda tajam, disamping itu juga perlindungan terhadap diri seorang Bundo Kanduang.
Pakaian adat tradisional Penghulu dan Bundo Kanduang mempunyai bermacam-macam variasi pada beberapa daerah tertentu di Minangkabau, ini dapat terlihat dalam pertunjukan Ujian Akhir S2 karya Alfiyanto,S.Sn yang berjudul Deta Datuak. Namun demikian pada hakekatnya merupakan kesatuan dan bervariasi hanya pada bagian-bagian tertentu saja.
REFERENSI
Daftar Pustaka
1. Ampera Salim dan Zulkifli,2005.Minangkabau Dalam Catatan Sejarah Yang Tercecer, Citra Budaya Indonesia Padang.
2. Drs. Anwar Ibrahim,dkk,1985.Pakaian Adat Tradisional Daerah Sumatera Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
3. Dt. B. Nurdin Yakub,1987.Minangkabau Tanah Pusaka-Sejarah Minangkabau, Pustaka Indonesia Bukittinggi.
4. H. Ch. N. Latief, SH, MSi Dt. Bandaro,2002.Etnis dan Adat Minangkabau-Permasalahan dan Masa Depannya, Angkasa Bandung.
5. H. Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu,1984.Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, CV. Remadja Karya Bandung.2001.Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau, PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
6. Lindawati,2006.Alam Dalam Persepsi Masyarakat Minangkabau, Andalas University Press Padang.
7. Prof. DR. Drs. H. Agustiar Syah Nur, M.A,2002.Kredibilitas Penghulu Dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau, Lubuk Agung Padang.
8. Risyani,2005.Pengantar Pengetahuan Tari, Departemen Pendidikan Nasional STSI Bandung.
Adapun yang dimaksud dengan busana atau pakaian tari ialah semua yang dipakai penari terdiri dari pakaian, perhiasan, dan perlengkapannya. Busana atau pakaian di dalam tari memiliki beragam fungsi, sebagai berikut:
1. Fungsi psikis : busana adalah lingkungan penari yang paling dekat dan akrab.
2. Fungsi artistik : busana adalah aspek seni rupa dalam penampilan tari yang menggambarkan identitas tarian/pemeran melalui, garis, bentuk, corak, dan warna busana. Dengan demikian maka pemeran seorang tokoh harus dikenal dari corak-coraknya.
3. Fungsi estetik : busana merupakan unsur keindahan tarian/peran yang menyatu dengan tubuh penari. Busana disini berfungsi membantu mengungkapkan karakter peran.
Di dalam seni tari tradisi, terntu akan dibalut oleh unsur-unsur seni rupa yang bersifat tradisi pula dan memiliki nilai serta makna yang telah membaku. Selain fungsi di atas, pada busana atau pakaian tari tradisional terdapat warna-warna simbolis umpamanya:
1. Warna merah sifatnya menarik sebagai simbol keberanian, agresif, aktif, raja sombong, ksatria putri, dan memiliki sifat teatrikal.
2. Warna biru sifatnya tenteram sebagai simbol kesetiaan, cocok untuk ksatria dan putri yang setia penuh dengan pengabdian.
3. Warna hitam adalah bijaksana, cocok untuk peran raja, ksatria, putri, pendeta bijaksana.
4. Warna kuning berkesan gembira dan agung.
5. Warna putih memiliki kesan muda dan suci(15). (Risyani, Pengantar Pengetahuan Tari. Departemen Pendidikan Nasional STSI Bandung,2005,h.33-34).
B. Pakaian Penghulu
Pada dasarnya pakaian Penghulu yang digunakan pada saat pertunjukan Deta Datuak tidak jauh berbeda dengan pakaian Penghulu yang dipakai di berbagai daerah di Sumatera Barat. Pada pertunjukan Deta Datuak tersebut, pakaian Penghulu terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Pakaian pertama Penghulu yang terdiri dari:
• Baju takwa berwarna putih
• Celana lapang (besar)
• Sisamping (samping)
• Cawek (ikat pinggang)
• Tongkat
2. Pakaian kedua Penghulu yang terdiri dari:
• Saluak
• Baju lapang (besar)
• Baju takwa
• Celana lapang (besar)
• Sisamping (samping)
• Cawek (ikat pinggang)
• Tongkat
3. Pakaian sekumpulan Penghulu yang terdiri dari:
• Saluak
• Baju lapang (besar)
• Celana lapang (besar)
• Sisamping (samping)
• Cawek (ikat pinggang)
• Sandang (salempang)
• Selop
• Tongkat
C. Makna Pakaian Penghulu
Sebagaimana kita ketahui dan kita lihat, pakaian Penghulu di Minangkabau sangat berlainan dengan pakaian-pakaian pemuka-pemuka adat di daerah lain. Pakaian Penghulu yang disebut diatas sebenarnya tidaklah dibuat demikian saja, tetapi cukup mempunyai hikmah dan falsafah yang mengandung ajaran-ajaran bagi si pemakainya (Penghulu). Dan pada pakaian itu sebenarnya terkandung banyak sekali rahasia yang menyangkut sifat-sifat dan martabat serta larangan seorang Penghulu begitupun tugasnya dan kepemimpinannya (ilmu yang bersangkutan dengan leadership)(16. H. Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu, Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.PT. Remadja Rosdakarya Bandung, 2001, h.104-105)
1.Saluak
• Melambangkan sistem pemerintahan demokrasi dalam masyarakat Minangkabau.
• Melambangkan penyimpanan segala buruk baik, segala rahasia yang merupakan persoalan dalam masyarakatnya.
• Warna merah melambangkan keberanian.
• Warna hitam yang melambangkan dapat bekerjasama dalam bidang apa saja untuk kebaikan kaumnya atau masyarakat pada umumnya.
• Melambangkan bahwa Penghulu mempunyai derajat yang tertinggi dalam masyarakatnya.
• Melambangkan bahwa dalam mencari mufakat akan diperoleh suatu keputusan yang datar dan adil bagi segala pihak.
• Melambangkan bahwa orang yang memakainya adalah orang yang tahu dengan seluk beluk adat Minangkabau.
• Melambangkan kedalaman ilmu orang yang memakainya.
2. Baju lapang (besar)
• Melambangkan bahwa pemakainya adalah orang besar, beralam luas, berdada lapang dan bersifat sabar.
• Melambangkan keterbukaan pemimpin dan kelapangan dadanya.
• Selalu ingat dan menjaga kelestarian adat.
• Berilmu, berwibawa, bermagrifat, yakni tawakal kepada Allah.
• Kaya dan miskin terletak pada hati dan kebenaran.
• Hemat dan cermat.
• Sabar dan ridho.
• Melambangkan bahwa Penghulu tidak mempunyai sifat pembohong atau tidak pendusta, tidak mempunyai sifat mengambil kesempatan dalam kesempitan.
• Melambangkan bahwa Penghulu tidak berbuat merugikan orang lain atau kawan sendiri.
• Melambangkan bahwa orang Minangkabau hidup dengan penuh perasaan.
• Warna hitam melambangkan bahwa sepatah kata Penghulu tidak dapat dirubah lagi, karenanya semuanya yang dikatakan Penghulu itu merupakan hasil musyawarah bersama.
3. Celana lapang (besar)
• Melambangkan langkah yang selesai untuk menjaga segala kemungkinan musuh yang datang tiba-tiba. Walaupun lapang tetapi langkahnya mempunyai batas-batas tertentu dan mempunyai tata tertib tertentu pula.
• Melambangkan agar bersifat jujur, benar dan tulus-ikhlas.
• Melambangkan jangan berlindung pada orang lain semaunya, jangan suka enak sendiri dalam masyarakat.
4.Sisamping (samping)
• Melambangkan orang yang memakainya akan selalu hormat-menghormati.
• Warna merah melambangkan keberanian dan bertanggung jawab.
• Melambangkan si pemakai mempunyai pengetahuan yang cukup dalam bidangnya.
• Melambangkan agar pemakai dalam berjalan harus memelihara kaki, dan dalam berkata pelihara lidah. Dengan kata lain ”samping” tersebut dapat dikatakan melambangkan ”kehati-hatian” pemakai dalam segala tindak-tanduknya dalam masyarakat.
5.Cawek (ikat pinggang)
• Melambangkan setiap sesuatu itu harus dengan rundingan menyelesaikannya. Penghulu tidak boleh menjadi hakim sendiri.
• Melambangkan keteguhan orang Minangkabau pada perjanjian.
6.Sandang (salempang)
• Melambangkan tanggung jawab seorang Penghulu terhadap kesejahteraan anak kemenakannya.
• Melambangkan tanda kebesaran seorang Penghulu.
• Melambangkan bahwa Penghulu itu adalah orang yang jujur dan selalu menepati janji yang telah dibuat bersama.
• Melambangkan penghapus keringat yang terdapat pada kening.
7.Tongkat
• Melambangkan kebesaran pemakaianya, atau orang yang harus didahulukan dan dituakan sepanjang adat.
• Melambangkan kemampuan dan kemakmuran negeri.
• Melambangkan komando terhadap anak kemenakan.
• Melambangkan bahwa tiap-tiap keputusan yang telah dibuat, tiap peraturan yang telah ditetapkan harus dipertahankan dan ditegakkan dengan penuh wibawa.
• Melambangkan bahwa semua masalah tidak dikuasai sendiri dan tidak diselesaikan atau dihakimi sendiri.
• Melambangkan sebagai pertahanan diri terhadap serangan musuh.
• Melambangkan bahwa Penghulu mempunyai pembantu dalam menjalankan tugasnya(17. Drs.Anwar Ibrahim,dkk, Pakaian Adat Tradisional Daerah Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986,h.29-98).
8. Baju takwa putih
• Melambangkan kesucian hati seorang Penghulu.
• Melambangkan kejernihan pikiran seorang Penghulu dalam pengambilan keputusan.
• Melambangkan bahwa Penghulu adalah seorang yang bertakwa kepada Tuhan.
9. Selop
Disini selop hanya berfungsi sebagai pelindung / pengaman kaki agar tidak terkena benda tajam, disamping itu juga perlindungan terhadap diri seorang Penghulu.
D. Pakaian Bundo Kanduang
Pada dasarnya pakaian Bundo Kanduang yang digunakan pada saat pertunjukan Deta Datuak tidak jauh berbeda dengan pakaian Bundo Kanduang yang dipakai di berbagai daerah di Sumatera Barat. Pada pertunjukan Deta Datuak tersebut, pakaian Bundo Kanduang terdiri dari:
1. Tengkuluk tanduk
2. Baju bertanti
3. Sarung (lambak)
4. Kalung
5. Gelang
6. Selop
Pakaian Bundo Kanduang
E. Makna Pakaian Bundo Kanduang
Pakaian Bundo Kanduang yang disebut diatas sebenarnya tidaklah dibuat demikian saja, tetapi cukup mempunyai hikmah dan falsafah yang mengandung ajaran-ajaran bagi si pemakainya (Bundo Kanduang)(Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu, Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau.PT. Remadja Rosdakarya Bandung, 2001, h.104-105).
1. Tengkuluk tanduk
• Melambangkan rumah adat Minangkabau.
• Melambangkan akal budi Bundo Kanduang menyebar untuk masyarakat banyak.
• Melambangkan bahwa dalam memutuskan sesuatu haruslah dengan musyawarah mufakat dan hasilnya harus adil.
• Melambangkan tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan kepada Bundo Kanduang harus dijunjung tinggi.
2. Baju bertanti
• Melambangkan kekayaan alam Minangkabau dengan emas.
• Melambangkan masyarakat yang bermacam ragam berada dalam satu wadah yaitu adat Minangkabau.
• Melambangkan ketaatan Bundo Kanduang dalam menjalankan agama Islam.
• Melambangkan demokrasi yang luas di Minangkabau tetapi berada pada batas-batas tertentu.
• Warna merah melambangkan keberanian dalam menyatakan kebenaran.
• Warna hitam melambangkan tahan gempa dan dapat pergi kemana saja dalam melaksanakan tugasnya.
3.Sarung (lambak)
• Melambangkan bahwa dia seorang ”putri” yang memiliki tertib sopan dan mempunyai rasa jormat menghormati.
• Warna merah atau minimal kemerah-merahan sebagai lambang keberanian dan bertanggung jawab.
• Melambangkan bahwa segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya.
4.Kalung
• Melambangkan bahwa semua rahasia dikumpulkan oleh Bundo Kanduang.
• Melambangkan bahwa kebenaran akan tetap berdiri teguh.
• Melambangkan bahwa Bundo Kanduang menyimpan harta pusaka.
5.Gelang
• Melambangkan keindahan dan memamerkan kemampuan/kekayaan sipemakai.
• Pemakaian gelang melambangkan batas-batas yang dapat dilakukan oleh seorang dalam kehidupan ini.
• Melambangkan bahwa dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan harus disesuaikan dengan kemampuan.
• Melambangkan kedisiplinan adat Minangkabau(19).
6. Selop
Disini selop hanya berfungsi sebagai pelindung / pengaman kaki agar tidak terkena benda tajam, disamping itu juga perlindungan terhadap diri seorang Bundo Kanduang.
Pakaian adat tradisional Penghulu dan Bundo Kanduang mempunyai bermacam-macam variasi pada beberapa daerah tertentu di Minangkabau, ini dapat terlihat dalam pertunjukan Ujian Akhir S2 karya Alfiyanto,S.Sn yang berjudul Deta Datuak. Namun demikian pada hakekatnya merupakan kesatuan dan bervariasi hanya pada bagian-bagian tertentu saja.
REFERENSI
Daftar Pustaka
1. Ampera Salim dan Zulkifli,2005.Minangkabau Dalam Catatan Sejarah Yang Tercecer, Citra Budaya Indonesia Padang.
2. Drs. Anwar Ibrahim,dkk,1985.Pakaian Adat Tradisional Daerah Sumatera Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
3. Dt. B. Nurdin Yakub,1987.Minangkabau Tanah Pusaka-Sejarah Minangkabau, Pustaka Indonesia Bukittinggi.
4. H. Ch. N. Latief, SH, MSi Dt. Bandaro,2002.Etnis dan Adat Minangkabau-Permasalahan dan Masa Depannya, Angkasa Bandung.
5. H. Idrus Hakimy Dt. Rajo Penghulu,1984.Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, CV. Remadja Karya Bandung.2001.Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau, PT. Remaja Rosdakarya Bandung.
6. Lindawati,2006.Alam Dalam Persepsi Masyarakat Minangkabau, Andalas University Press Padang.
7. Prof. DR. Drs. H. Agustiar Syah Nur, M.A,2002.Kredibilitas Penghulu Dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau, Lubuk Agung Padang.
8. Risyani,2005.Pengantar Pengetahuan Tari, Departemen Pendidikan Nasional STSI Bandung.
FALSAFAH
PAKAIAN PENGHULU DI MINANGKABAU
BADETA panjang bakatuak, bajangan isi dalam kulit, pandjang tak dapek
diukua, leba tak dapek dibidai, salilik lingkaran kaniang, ikek satuang djo
kapalo. Tiok katuak baundang-undang, tiok liku aka mandjala, dalam karuik budi
marangkak, tabuak dek paham tiok lipek. Lebanjo kapandindiang kampuang,
pandukuang anak kamanakan, hamparan di rumah tanggo, paraok gondjong nan ampek.
Dilaman mandjadi pajuang pandji, panudungi urang korong kampuang, sjarikat
warih mandirikan, bakeh balinduang hari paneh, tampat bataduah hari hudjan, dek
nan sapajuang sapatagak, nan salingkuang tjupak adat, sarato djo nan dibawah
pajuang nan dilingkuang tjupak. Pandjangnjo palilik korong, palingka nan sabuah
kaum, mandjala masuak nagari.
BABADJU hitam gadang tangan, langan tasengseng tak bangih, bukan karano
dek pambangih, pangipeh angek nak dingin, pahampeh gabuak nak njo habih.
SIBA batanti timba baliak, mangilek mangalimantang, tatutuik djaik
pangka langan, mambajangkan uleh tak babuku, pandai mauleh tak mangasan, lauik
ditampuah tak barombak, padang ditampuah tak barangin. Budi haluih bak’ lauik
dalam, sipatnjo pantang kaadjuakan, pasia mangapuang pantangannjo.
LANGAN bamilik kiri kanan, baminsia makau kaamasan, gadang barapik djo
nan ketek, alamat rang gadang bapangiriang, tagak baapuang djo aturan, adat
limbago nan mancapuang. Baukuo djambo djo djangkau, undjuak baagak bahinggokan,
murah djo maha mambatasi, martabat nan anam dipakaikan.
LIHIA nan lapeh tak bakatuak, babalah hampia ka dado, manjatokan
alamnjo leba, padang lapang buminjo laweh, gunuangnjo tak runtuah dek kabuik,
lauik tak karuah dek ikan, rang gadang martabat njo saba, tagangnjo
badjelo-djelo, kanduanjo badantiang-dantiang, paik manih pandai malulua, tjando
kaijo kasamonjo, situ martabat bahimpunnjo.
SERAWA hitam gadang kaki, kapanuruik aluan nan luruih, kapanampuah
djalan nan pasa, kadalam korong djo kampuang, masuak ka koto djo nagari.
Langkah salasai baukuran, martabat nan anam mambatasi, murah djo maha ditampatnjo.
Badjalan sorang tak dahulu
Badjalan baduo tak ditangah
Himat djimat labiah dahulu
Dimartabat nan kalimo haram kok lengah
Tanah kudarang di nan hitam, paham hakikat tahan tapo, manahan sudi djo siasek, kuma bapantang kalahiran.
Kokoh mangganggam nan sabindjek
Pahamnjo djago di bitjaro
Kadjadi intjek djambu monjek
Itu nan djadi pantangannjo.
Langkah salasai baukuran, martabat nan anam mambatasi, murah djo maha ditampatnjo.
Badjalan sorang tak dahulu
Badjalan baduo tak ditangah
Himat djimat labiah dahulu
Dimartabat nan kalimo haram kok lengah
Tanah kudarang di nan hitam, paham hakikat tahan tapo, manahan sudi djo siasek, kuma bapantang kalahiran.
Kokoh mangganggam nan sabindjek
Pahamnjo djago di bitjaro
Kadjadi intjek djambu monjek
Itu nan djadi pantangannjo.
SAMPING sabidang diateh lutuik, kajo djo miskin alamatnjo. ado batampat
kaduonjo, luruih senteng tak buliah dalam, patuik dalam tak dapek senteng,
karadjo hati kasamonjo, mumgkin djo patuik kaukuran.
Tanahnjo merah batjukia makau, tando barani di nan bana, alemu
bak bintang bataburan, sumarak katangah koto, mantjajo masuak nagari, dalam
martabat nan katigo. Kajo hati djo miskin hati, diateh djalan kabanaran. Namun
nan baiak nan dimintak, sabab tak timbua di pangulu, alun bakandak lah baisi,
alun mamintak lah babari. Tapi kok tuntuitan ka nan buruak atau ka nan kurang
baiak, , baratuih batu panaruang, tatagak paga nan kokoh, parik tabantang
mahalangi, njo ampang lalu kasubarang, badindiang sampai kalangik, haram kandak
bapalakukan.
TJAWEK suto badjumbai alai, saeto putjuak rabuangnjo, djambua nan
tangah tigo tampok. Kapalilik anak kamanakan, pandjarek aka budinjo, pamauik
pusako datuak, nak kokoh lua djo dalam, nan djinak nak makin tanang, nan lia
djan tabang jauah. Kabek sabalik buhua sintak, kokoh tak dapek diungkai,
gujahnjo bapantang tangga, lungga bak dukuah dilihia, babukak mangko kaungkai,
djo rundiang mangko katangga, kato mupakat kapaungkai.
SANDANG dibahu kain katjiak, kain tjindai ampek sagi, pahapuh paluah di
kaniang, pambungkuih nan tingga badjapuik, pangampuangkan nan tjitjie
babindjek, katao dahulu batapati, djo kato kudian kato batjari, tak buliah
tidak djanjo adat, tandonjo Tuhan bersipat Kadim. Dirantai kuntji tagantuang,
babagai bantuak ragamnjo, marupokan alat djo pakakeh, banyak salapan baleh
buah. Kalau ditindjau alamat kuntji, ijolah kok tibo maso kajo, pambukak peti
kabaragiah, kok tibo dimaso miskin, panguntji puro basitjeke. Kalaulah dimaso
murah, pambukak peti pakajan, kapanuruik alua nan luruih, kapanampuah djalan
nan pasa. Namun lah tibo di nan maha, nak kokoh simpanan dek kuntjinjo. Kalau
di adat nan bapakai, ditiang pandjang simadjo lelo, kalau pusako kabadjuntai,
pambukak beti bunian, baiak digantang nan tatagak, sasudah gantang dibalah,
panjingkokkan simpanan adat, panjimpan kato kabulatan, nak kokoh barih djo
balabeh.
SANDJATONJO karih kabasaran, sampiang djo tjawek nan tampatnjo, sisiknjo
tanam tabukan, lataknjo tjondong kakida, dikesong mangko ditjabuik. Gembonjo
tumpuan puntiang, tunangan huku kaju kamat, kokoh tak rago dek ambalau,
gujahnjo bapantang tangga.
Bengkoknjo tangah tigo patah, tapi luruih makanan banang,
bantuak dimakan siku-siku. Bamato baliak batimba, sanjawa pulo djo gandjonjo,
pantang balampeh kaasahan. Tadjam tak rago bagabuih, mamutuih rambuik
dihambuihkan, tapai bapantang malukoi, kaparauik lahia djo bathin, pangikih
miang di kampuang, panarah nan bungkuak sadjangka, kapanjisiak parik hulu.
Ipuahnjo turun dari langik, biso bapantang katawaran, djadjak ditikam mati
djuo. Kapalawan dajo rang haluih panusuak musuah nan dibadan, djalan sjai’ah
nan djan taturuik, bagi papatah gurindam adat :
Karih
sampono gandjo erah
Lahia batin pamaga diri
Patah muluik tampat kalah
Patah sindjato bakeh mati.
Lahia batin pamaga diri
Patah muluik tampat kalah
Patah sindjato bakeh mati.
PAMENAN tungkek kayu kamat, ujuang tanduak kapalo perak, panungkek adat
djo pusako, barih tatagak nak djan tjondong, soko nak kokoh diinggiran, ingek
antaro balun kanai, gantang nak tagak djo landjuangnjo.
SALUAK
Deta batik basaluak timbo, pakaian besar rang di Minang.
Dek bijak niniak nan baduo – dirubah bantuak deta datang.
Dubukak buhua deta datang disamek jadi saluak timbo.
Kok gapuak lamak tak dibuang – dek pandai alam santosonjo
Deta batik basaluak timbo, pakaian besar rang di Minang.
Dek bijak niniak nan baduo – dirubah bantuak deta datang.
Dubukak buhua deta datang disamek jadi saluak timbo.
Kok gapuak lamak tak dibuang – dek pandai alam santosonjo
Wassalam,
Selasa, 17 Desember 2013
Langganan:
Postingan (Atom)



